Minggu, 30 Maret 2025

Travelling Cinta

Azka duduk di sudut sebuah kafe bandara, menyesap kopinya sambil menatap layar ponselnya yang menampilkan jadwal penerbangan. Kini, hidupnya jauh berbeda dari masa-masa saat ia masih menjadi pemain band. Setelah berhijrah, ia memilih jalan baru sebagai pengusaha travel yang fokus pada perjalanan halal dan wisata religi.


Sebuah suara lembut mengalihkan perhatiannya. "Azka?"

Azka mendongak. Di hadapannya berdiri seorang wanita dengan senyum yang masih sama seperti yang ia ingat bertahun-tahun lalu. Amana.

"Hai..." Azka terdiam sejenak, mencoba memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Amana? Ini benar-benar kamu?"

Amana mengangguk, matanya berbinar. "Iya, sudah lama sekali ya? Aku nggak menyangka bisa ketemu kamu di sini."

Azka tersenyum. "Aku juga. Kamu masih suka traveling?"

"Tentu! Aku sekarang jadi blogger dan vlogger perjalanan. Kamu sendiri? Dulu terakhir kita ketemu, kamu masih ngeband."

Azka tertawa kecil. "Iya, hidup membawa aku ke jalan yang berbeda. Aku sekarang punya bisnis travel, khususnya perjalanan religi."

Mata Amana berbinar. "Serius? Aku kebetulan mau bikin konten tentang perjalanan umrah dan wisata halal di beberapa negara. Mungkin kita bisa kerja sama?"

Percakapan mereka mengalir begitu saja, seperti tak ada jarak bertahun-tahun di antara mereka. Azka mengingat betapa dulu ia dan Amana begitu dekat, namun waktu dan keadaan memisahkan mereka. Kini, takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang tak terduga.

Setelah beberapa saat, pengumuman penerbangan terdengar. Amana melihat jam tangannya. "Sepertinya aku harus boarding. Tapi, Azka... aku senang sekali bertemu kamu lagi."

Azka mengangguk. "Aku juga, Amana. Mungkin ini bukan sekadar kebetulan."

Sejenak ketika Amana hendak melangkah pergi, Azka mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya, "Amana, apakah nomer teleponmu masih sama dengan yang dulu?"

"Tentu saja," jawab Amana.

"Apakah kamu masih sendiri?" cecar Azka penasaran.

Amana tersenyum, lalu melambaikan tangan sebelum berjalan menuju gerbang keberangkatan. Azka menatapnya pergi, hatinya berdebar dengan perasaan yang lama tak ia rasakan. Mungkin, perjalanan hidupnya baru saja mempertemukannya kembali dengan takdir yang sempat tertunda.

~coretanandita~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar