Rania duduk termenung di jendela kamarnya, menatap langit malam Jakarta yang dipenuhi bintang. Usianya telah menginjak 34 tahun, dan sejak perceraiannya tiga tahun lalu, ia menjalani hidup sebagai seorang janda tanpa anak. Takdir membawanya pada kesendirian, namun ia tetap bersyukur. Hidupnya kini lebih tenang, meskipun ada ruang kosong di hatinya yang tak dapat ia pungkiri.
Di tengah keheningan malam, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari sahabatnya, Nadira.
"Ran, ada paket umrah promo untuk bulan depan. Yuk, berangkat bareng!"
Rania menatap layar ponselnya lama. Sudah lama ia bermimpi mengunjungi Tanah Suci, namun selalu ada alasan untuk menundanya. Tapi kali ini, hatinya tergerak. Tanpa pikir panjang, ia mengetik balasan, "Aku ikut!"
Sebulan kemudian, Rania berdiri di depan Masjidil Haram. Matanya berkaca-kaca. Mekkah… kota yang hanya bisa ia impikan selama ini, kini nyata di depan mata. Ia menghirup udara sejuk malam itu, merasakan ketenangan yang luar biasa.
Di tengah keramaian jemaah, ia dan Nadira berjalan perlahan, mengikuti rombongan. Rania fokus pada ibadahnya, menyerap setiap detik dalam keberkahan. Namun, ia tak sadar bahwa di antara ribuan orang di sana, ada sepasang mata yang memperhatikannya.
Di sudut lain, seorang pria bernama Haykal terpesona. Ia pria asal Surabaya, seorang pengusaha travel yang sering berkunjung ke Mekkah untuk urusan bisnis dan ibadah. Saat melihat Rania, ada sesuatu yang menarik perhatiannya—kesederhanaan dan keteduhan wajah wanita itu. Seakan-akan hatinya mendapat sinyal dari langit bahwa wanita ini bukan sembarang orang.
Keinginannya untuk mengenal Rania semakin kuat. Setelah selesai tawaf, ia mendekati seorang mutawwif (pemandu umrah) yang kebetulan mengenal rombongan Rania. Dari sanalah ia mengetahui nama wanita itu.
Hari-hari berikutnya, Haykal tanpa sengaja—atau mungkin takdir—beberapa kali bertemu Rania di Masjidil Haram. Kadang saat shalat, kadang di pelataran masjid. Dan setiap kali mata mereka bertemu, ada getaran aneh yang sulit dijelaskan.
Suatu sore, saat Rania sedang duduk sendirian di dekat sumur zamzam, seorang wanita tua berjubah hitam datang menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, Nak. Bolehkah saya duduk di sini?”
“Wa’alaikumussalam, tentu saja, Bu,” jawab Rania, tersenyum.
Wanita tua itu menatapnya penuh arti. “Namaku bu Salimah. Aku dari Surabaya. Aku ingin bertanya, apakah engkau sudah menikah?”
Rania terkejut dengan pertanyaan langsung itu, tapi ia tetap menjawab dengan sopan, “Saya seorang janda, Bu.”
Bu Salimah tersenyum. “Alhamdulillah. Begini, Nak, ada seorang pria baik yang ingin mengenalmu lebih dekat. Namanya Haykal, keponakanku. Ia melihatmu beberapa kali di sini dan merasa hatinya tertarik padamu. Jika engkau berkenan, mungkin kita bisa bertemu untuk sekadar berkenalan.”
Rania terdiam. Ini sesuatu yang tak pernah ia bayangkan terjadi di Tanah Suci. Hatinya berdebar, tapi ada ketenangan yang menyelinap dalam dadanya. Ia melihat ke arah Bu Salimah, lalu berkata lirih, “Saya tak tahu harus berkata apa…”
Wanita tua itu tersenyum lembut. “Shalatlah, Nak. Minta petunjuk pada Allah. Jika hatimu tenang, anggaplah ini bagian dari takdirmu.”
Setelah beristikharah, hati Rania merasa damai. Pertemuan pertama dengan Haykal terjadi di lobi hotel, ditemani oleh Nadira dan Bu Salimah. Haykal ternyata pria yang santun dan berwibawa.
“Rania, sejak pertama kali melihatmu, aku merasa seakan Allah mengarahkan hatiku padamu,” kata Haykal jujur. “Aku bukan pria sempurna, tapi aku ingin mengenalmu lebih jauh dengan niat yang baik.”
Hati Rania bergetar. Kejujuran di mata pria itu membuatnya tak bisa berkata-kata.
Singkat cerita, dalam beberapa hari ke depan, Haykal mengutarakan niatnya untuk melamar Rania. Semua terjadi begitu cepat, namun Rania merasa hatinya sudah siap.
“Aku ingin menikah di sini, di Mekkah,” ujar Haykal mantap. “Di kota suci ini, aku ingin memulai lembaran baru bersama wanita yang kupilih dengan hati.”
Dan begitulah, di Masjidil Haram, dengan disaksikan beberapa saksi dan kerabat, Rania dan Haykal mengikat janji suci. Air mata haru mengalir saat akad nikah diucapkan.
Rania tak pernah menyangka bahwa perjalanannya ke Tanah Suci bukan hanya tentang ibadah, tapi juga tentang menemukan jodohnya.
Hidup memang penuh kejutan, dan takdir Allah selalu bekerja dengan cara yang indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar