Nazwan melangkah keluar dari mobilnya, menatap bangunan tua yang sebentar lagi akan direnovasi menjadi rumah sakit baru. Ia merapikan jasnya dan menghela napas panjang. Ini adalah proyek besar yang akan menaikkan namanya sebagai arsitek. Namun, bukan hanya proyeknya yang menarik perhatiannya—melainkan pemilik rumah sakit itu.
"Nazwan?"
Suara lembut itu membuatnya menoleh. Di sana, berdiri seorang wanita dengan senyum yang masih sama seperti dulu.
"Nabila?" Nazwan sedikit terkejut, lalu tersenyum. "Ya ampun, sudah lama sekali!"
Nabila mengangguk. "Iya, aku tidak menyangka arsitek yang akan mendesain rumah sakitku adalah kamu!"
Mereka bersalaman, dan untuk sesaat, kenangan masa kecil mereka berkelebat dalam benak masing-masing. Dulu, mereka bertetangga dan selalu bermain bersama sebelum akhirnya terpisah karena pekerjaan orang tua Nazwan yang membuatnya pindah ke kota lain.
Hari-hari berikutnya, mereka sering bertemu untuk membahas desain rumah sakit. Setiap pertemuan, Nazwan semakin mengenal Nabila yang kini seorang janda dengan seorang putri kecil bernama Aisyah.
Suatu sore, setelah rapat panjang, mereka memutuskan untuk makan malam bersama. Di restoran, Aisyah yang ikut bersama mereka terlihat cepat akrab dengan Nazwan.
"Om arsitek, kamu bisa bikin rumah impian juga?" tanya Aisyah polos.
Nazwan tertawa. "Tentu! Aisyah mau rumah seperti apa?"
"Yang ada taman bunga, ayunan, dan ada tempat khusus buat mama biar bisa santai," jawab Aisyah sambil melirik Nabila.
Nabila tersipu, dan Nazwan merasa sesuatu menghangat di hatinya. Seiring waktu, dia menyadari bahwa perasaannya terhadap Nabila semakin dalam.
Suatu hari, setelah inspeksi bangunan, Nazwan memberanikan diri bertanya, "Nabila, bagaimana jika kita memberi Aisyah rumah impian itu... bersama?"
Nabila terdiam, menatap Nazwan dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yakin? Aku... aku bukan wanita lajang lagi, dan aku punya anak."
Nazwan tersenyum lembut. "Justru itu yang membuatku jatuh cinta padamu. Kamu kuat, mandiri, dan Aisyah adalah anugerah. Aku ingin menjadi bagian dari hidup kalian."
Air mata haru mengalir di pipi Nabila. "Aku juga punya perasaan yang sama, Nazwan..."
Beberapa bulan kemudian, rumah sakit baru akhirnya berdiri megah, dan di hari yang sama, Nazwan melamar Nabila di hadapan Aisyah.
"Mama, ayo bilang iya! Aku mau punya papa!" seru Aisyah kegirangan.
Nabila tertawa dan mengangguk. "Iya, Nazwan... aku mau."
Di tengah bangunan rumah sakit yang mereka rancang bersama, cinta lama yang tak pernah benar-benar padam akhirnya menemukan rumahnya.
~coretanandita~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar