Herjuna duduk di salah satu meja di restorannya yang baru saja tutup. Ia menatap dapur terbuka tempat para koki tengah merapikan peralatan. Bau harum rempah masih terasa di udara. Restoran yang ia bangun dari nol ini telah sukses besar, tapi tetap saja, ada sesuatu yang kurang.
"Luna tidur di rumah neneknya?" tanya Reza, sahabat sekaligus manajer restorannya.
Herjuna mengangguk. "Iya, dia betah di sana. Ada teman mainnya."
Reza tersenyum. "Baguslah. Kau butuh hiburan, Jun. Coba lihat dirimu, kerja terus. Kapan terakhir kali kau kencan?"
Herjuna hanya terkekeh kecil tanpa menjawab.
Di tempat lain, Narinka baru saja melepas jas dokternya setelah selesai menangani pasien terakhir hari itu. Perutnya keroncongan. Ia membuka ponsel dan mencari tempat makan enak. Matanya tertuju pada ulasan sebuah restoran yang terkenal dengan masakan tradisionalnya.
"Aku harus coba ini!" gumamnya.
Tanpa pikir panjang, ia langsung berangkat. Sesampainya di sana, ia sedikit kecewa melihat tulisan "TUTUP" di pintu. Namun, aroma makanan yang masih menyeruak membuatnya nekat mengetuk pintu.
Seorang pria tinggi dengan wajah teduh membukakan pintu.
"Maaf, restoran sudah tutup," katanya ramah.
Narinka tersenyum. "Masakannya masih wangi. Tidak bisakah aku mencicipi sedikit? Maaf, pekerjaan membuatku lupa belum makan malam, dan aku penasaran sekali dengan tempat ini."
"Tapi para koki sudah bersiap-siap pulang, kasihan kalau meminta mereka memasak lagi?" terang Herjuna
Narinka yang kelaparan masih mencoba bernegosiasi, "Ehm, tidak adakah sisa makanan yang bisa aku makan."
Herjuna terkekeh. "Kamu lucu sekali, maaf jika kurang sopan, memang perkerjaan apa yang membuatmu hingga lupa makan malam?"
"Aku seorang dokter gigi yang suka makan," jawab Narinka sambil senyum-senyum.
"Dokter gigi hobi makan? Kombinasi yang unik," seru Herjuna.
"Betul! Aku suka makan, lalu bertanggung jawab dengan rajin sikat gigi," gurau Narinka
Herjuna terdiam sejenak, lalu melirik dapur. "Baiklah. Tapi hanya satu menu."
"Deal!" jawab Narinka semangat.
Malam itu, Narinka menikmati hidangan spesial yang dimasak langsung oleh Herjuna. Dari pertemuan itu, mereka mulai sering bertemu. Herjuna kagum dengan energi dan keceriaan Narinka, sementara Narinka merasa nyaman dengan ketenangan dan ketulusan Herjuna.
Luna, putri kecil Herjuna, juga langsung menyukai Narinka. "Tante dokter gigi yang suka makan"—begitu ia memanggilnya—sering membawakannya permen, tapi juga memastikan ia rajin sikat gigi setelahnya.
Seiring waktu, hubungan mereka semakin erat. Herjuna yang semula ragu untuk membuka hati setelah kegagalan pernikahannya mulai menyadari bahwa cinta bisa datang untuk kedua kalinya.
Di suatu sore, saat mereka bertiga menikmati makan malam bersama, Luna tiba-tiba berkata, "Ayah, kapan tante dokter gigi jadi ibu baruku?"
Herjuna dan Narinka saling berpandangan, lalu tertawa.
~coretanandita~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar