Sabtu, 05 April 2025

Jodoh di Pengadilan Agama

Meiza melangkah keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak, meskipun hatinya terasa hancur. Gugatan cerainya telah dikabulkan. Ia kini resmi berpisah dari Adrian, suami yang pernah ia cintai, namun tega mengkhianatinya.

"Bu Meiza, ini berkas putusan cerainya." Seorang petugas menyerahkan dokumen kepadanya. Meiza menerimanya tanpa ekspresi, lalu melangkah ke luar ruangan dengan perasaan campur aduk.

Di koridor pengadilan agama yang ramai, seorang pria berdiri bersandar di dinding, berbicara dengan kliennya. Meiza tak sengaja menyenggolnya saat lewat.

"Maaf," ucapnya singkat.

Pria itu menoleh, menatapnya sesaat. "Tidak masalah."

Namun, saat mata mereka bertemu, ada keanehan yang keduanya rasakan. Meiza mengernyit, merasa wajah pria itu tak asing.

"Meiza Putri?" tanyanya.

Meiza mengerutkan kening. "Anda siapa?"

"Kamil Arya. Kita pernah satu panel diskusi di acara literasi dua tahun lalu."

Meiza mengingat samar-samar. "Oh... Pengacara perceraian?"

"Betul. Dan sepertinya Anda baru saja menyelesaikan kasus Anda," ujar Kamil, melirik berkas di tangan Meiza.

Meiza menghela napas, tak berniat membahasnya lebih jauh. "Kalau Anda sedang bekerja, saya tidak ingin mengganggu."

Namun, Kamil tersenyum tipis. "Saya selesai, kok. Kebetulan, saya mau ke kafe dekat sini. Anda mau ikut? Mungkin butuh secangkir kopi untuk sedikit melepas beban."

Meiza hampir menolak, tapi entah kenapa ia mengangguk.

Di kafe kecil yang tidak terlalu ramai, mereka duduk berhadapan. Meiza memutar-mutar sendok di cangkirnya.

"Jadi, ceritakan sedikit. Kenapa Anda bisa berakhir di pengadilan?" tanya Kamil, nada suaranya tenang, seperti seseorang yang sudah sering mendengar kisah serupa.

Meiza menghela napas. "Suami saya selingkuh. Saya bertahan selama satu tahun, berharap dia berubah. Nyatanya, semakin lama, saya semakin tersakiti."

Kamil mengangguk, seolah memahami perasaan itu. "Terkadang, bertahan bukan pilihan terbaik."

Meiza menatapnya. "Anda sendiri? Saya dengar Anda duda."

Kali ini, Kamil yang menghela napas. "Istri saya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Kehidupan saya berubah sejak saat itu."

Meiza tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di mata Kamil yang membuatnya merasa ingin menggali lebih dalam.

Obrolan mereka berlanjut lebih lama dari yang mereka duga. Yang awalnya hanya percakapan formal, lama-lama berubah menjadi kehangatan.

Hari-hari berlalu. Meiza dan Kamil semakin sering bertemu. Awalnya hanya sebagai teman bicara, tetapi lama-kelamaan ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka.

Suatu hari, di sebuah taman kota, Kamil menatap Meiza dengan ragu.

"Saya tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi... apakah Anda juga merasakan apa yang saya rasakan?" tanyanya.

Meiza menatapnya lama. "Kamil, saya baru saja melewati perpisahan yang menyakitkan. Saya takut untuk memulai lagi."

Kamil tersenyum, lalu menggenggam tangan Meiza dengan lembut. "Saya tidak meminta jawaban sekarang. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya di sini. Dan saya tidak akan pergi."

Meiza mengerjap, merasakan kehangatan yang lama hilang dari hatinya. Mungkin, cinta memang tidak bisa direncanakan. Dan mungkin, bersama Kamil, ia bisa menemukan kebahagiaan yang baru.

~coretanandita~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar