Alika melirik jam tangannya. Sudah pukul sepuluh pagi, waktunya pasien berikutnya masuk. Ia merapikan jas dokternya dan mengecek kembali berkas yang baru saja diterima dari perawat.
Nama pasien: Ny. Retno, 45 tahun.
Alika merasa nama itu tak asing. Begitu pintu diketuk dan terbuka, seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah hati-hati, diikuti oleh seorang pria tinggi berjaket hitam.
Alika mendongak, dan detaknya seakan melambat sejenak.
"Shaka?"
Pria itu pun terkejut. Matanya melebar sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Alika?"
Mereka saling menatap beberapa detik, seolah waktu kembali ke masa SMA, ke tahun-tahun di mana mereka pernah saling diam-diam menaruh rasa.
"Kalian saling kenal?" tanya Ny. Retno, melihat ekspresi mereka.
Shaka tertawa kecil. "Iya, Bunda. Dulu kami satu SMA."
Alika segera menguasai dirinya, lalu tersenyum profesional. "Baik, Ibu Retno, mari kita mulai pemeriksaan."
Sepanjang pemeriksaan, Alika berusaha bersikap seformal mungkin. Namun, sesekali ia menangkap tatapan Shaka yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Setelah selesai, ia menjelaskan kondisi Ny. Retno pada Shaka dan memberi saran tentang pola hidup sehat.
"Saya akan jadwalkan pemeriksaan berikutnya sebulan lagi," kata Alika, menyerahkan resep dan catatan medis.
Ny. Retno mengangguk dan tersenyum hangat. "Terima kasih, dokter."
Saat wanita itu keluar lebih dulu, Shaka masih berdiri di tempatnya.
"Jadi, kamu benar-benar jadi dokter jantung," katanya. Ada kekaguman di suaranya.
Alika tersenyum. "Dan kamu punya perusahaan konsultan pembangunan?"
Shaka mengangguk. "Mimpiku sejak SMA. Ternyata kita sama-sama mengejar cita-cita, ya?"
Ada jeda sejenak. Lalu, dengan nada lebih pelan, Shaka berkata, "Dulu aku sering ingin ngobrol sama kamu, tapi nggak pernah berani."
Alika terkekeh. "Padahal aku juga begitu."
Mereka saling bertukar senyum. Seolah ada benang merah yang dulu sempat terputus, kini perlahan tersambung kembali.
Shaka menatapnya lekat. "Boleh aku traktir kopi setelah ini? Anggap saja reuni kecil-kecilan."
Alika berpikir sejenak, lalu mengangguk dengan senyum yang lebih lebar. "Kenapa tidak?"
Mungkin, beberapa detak yang dulu tertinggal di masa lalu akhirnya menemukan jalannya kembali.
~coretanandita~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar