Sabtu, 05 April 2025

Cintaku Tertambat di Taman Kanak-kanak

Langit pagi terlihat cerah saat Amora melangkah masuk ke kelasnya di TK Mentari Cendekia, sebuah sekolah swasta elit tempat ia mengabdikan dirinya sebagai guru. Anak-anak sudah duduk rapi di karpet warna-warni, menunggu dengan wajah ceria. Namun, di sudut kelas, Alif duduk sendiri, menundukkan kepala, dan tampak gelisah.

Amora selalu memperhatikan anak itu. Alif adalah anak yang cerdas, tetapi sering kali berusaha mencari perhatian dengan berbagai cara—kadang bertingkah usil, kadang tiba-tiba menangis. Hatinya terenyuh setiap kali melihat sorot mata sendu bocah itu.

Hari itu, saat kegiatan menggambar, Amora berjalan mendekati Alif yang tampak termenung menatap kertas kosong di depannya.

"Alif, kenapa belum menggambar? Ibu lihat teman-teman sudah mulai," tanya Amora lembut.

Alif mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca. "Bu Guru... aku mau gambar bunda, tapi aku nggak tahu wajah bunda aku," ucapnya lirih.

Amora tercekat. Ia berusaha tetap tersenyum dan mengusap punggung Alif dengan penuh kasih sayang. "Bunda Alif pasti sangat cantik dan sayang sekali sama Alif. Alif boleh menggambar bunda seperti yang Alif inginkan, dengan hati."

Namun, tak lama setelahnya, Alif menangis terisak. Beberapa anak menoleh, tapi Amora segera menenangkan suasana. Ia mengajak Alif keluar kelas sebentar dan memutuskan untuk memanggil ayah Alif.

Tak lama kemudian, seorang pria berjas datang dengan langkah tergesa ke sekolah. Raffa, ayah Alif, pria berusia awal 30-an dengan wajah tampan dan tatapan tajam, terlihat cemas.

"Apa yang terjadi dengan Alif?" tanyanya begitu bertemu Amora di ruang guru.

Amora tersenyum menenangkan. "Alif baik-baik saja, Pak Raffa. Tapi hari ini dia menangis karena merasa sedih. Dia bilang ingin punya bunda seperti teman-temannya."

Tatapan Raffa meredup. Ia menghela napas panjang dan mengusap wajahnya. "Saya tahu ini akan terjadi, cepat atau lambat... Saya sudah berusaha menjadi ayah yang baik, tapi saya tahu ada bagian dari hidupnya yang tak bisa saya isi."

Amora merasakan kesedihan dalam suara pria itu. Ada luka yang masih menganga di hatinya.

"Pak Raffa sudah melakukan yang terbaik. Alif anak yang baik dan cerdas. Dia hanya butuh lebih banyak kasih sayang, lebih banyak pelukan," ucap Amora tulus.

Saat itu, untuk pertama kalinya, Raffa menatap Amora lebih dalam. Ada ketulusan di mata wanita itu, sesuatu yang menenangkan dan hangat.

Sejak hari itu, Raffa lebih sering datang menjemput Alif. Ia menyempatkan diri untuk berbicara lebih lama dengan Amora, mendengar perkembangan anaknya. Awalnya, hanya sebatas obrolan formal, tapi perlahan-lahan, percakapan mereka menjadi lebih pribadi.

Suatu sore, saat mereka berdua berdiri di dekat taman sekolah, Raffa berkata, "Bu Amora, saya ingin berterima kasih. Sejak mengenal Anda, Alif terlihat lebih ceria. Sepertinya, dia sudah menganggap Anda seperti sosok ibunya."

Amora tersenyum, tapi dalam hatinya ada debaran yang berbeda. Ia tak bisa memungkiri perasaan hangat yang tumbuh setiap kali melihat Raffa dan Alif.

Dan tanpa mereka sadari, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka—perlahan, tapi pasti.

~coretanandita~

10 Kutipan Jatuh Cinta Coretan Andita

"Dia ada di setiap laguku, meski namanya tak pernah kusebut."


"Aku mulai menyukai hujan, karena di dalamnya aku bisa menyembunyikan senyum tanpa alasan."


"Bukan dunia yang lebih indah, hanya saja ada seseorang yang membuatnya terasa berbeda."


"Tiba-tiba pulang ke rumah terasa lebih cepat, hanya karena ada seseorang yang ingin kuceritakan hari ini."


"Matanya seperti magnet, selalu menarik perhatianku tanpa aku sadari."


"Aku tidak mengubah apa pun dalam hidupku, tapi entah kenapa semuanya terasa lebih ringan."


"Aneh, aku mulai menyukai warna yang dulu tak pernah kupedulikan, hanya karena dia menyukainya."


"Kata-katanya biasa saja, tapi entah mengapa aku ingin mendengarnya setiap hari."


"Aku menemukan diriku tersenyum tanpa sebab, lalu sadar, ada satu nama yang berputar di kepalaku."


"Aku tak pernah mencari, tapi kehadirannya seperti jawaban yang bahkan belum sempat kutanyakan."


~coretanandita~

Jodoh di Pengadilan Agama

Meiza melangkah keluar dari ruang sidang dengan kepala tegak, meskipun hatinya terasa hancur. Gugatan cerainya telah dikabulkan. Ia kini resmi berpisah dari Adrian, suami yang pernah ia cintai, namun tega mengkhianatinya.

"Bu Meiza, ini berkas putusan cerainya." Seorang petugas menyerahkan dokumen kepadanya. Meiza menerimanya tanpa ekspresi, lalu melangkah ke luar ruangan dengan perasaan campur aduk.

Di koridor pengadilan agama yang ramai, seorang pria berdiri bersandar di dinding, berbicara dengan kliennya. Meiza tak sengaja menyenggolnya saat lewat.

"Maaf," ucapnya singkat.

Pria itu menoleh, menatapnya sesaat. "Tidak masalah."

Namun, saat mata mereka bertemu, ada keanehan yang keduanya rasakan. Meiza mengernyit, merasa wajah pria itu tak asing.

"Meiza Putri?" tanyanya.

Meiza mengerutkan kening. "Anda siapa?"

"Kamil Arya. Kita pernah satu panel diskusi di acara literasi dua tahun lalu."

Meiza mengingat samar-samar. "Oh... Pengacara perceraian?"

"Betul. Dan sepertinya Anda baru saja menyelesaikan kasus Anda," ujar Kamil, melirik berkas di tangan Meiza.

Meiza menghela napas, tak berniat membahasnya lebih jauh. "Kalau Anda sedang bekerja, saya tidak ingin mengganggu."

Namun, Kamil tersenyum tipis. "Saya selesai, kok. Kebetulan, saya mau ke kafe dekat sini. Anda mau ikut? Mungkin butuh secangkir kopi untuk sedikit melepas beban."

Meiza hampir menolak, tapi entah kenapa ia mengangguk.

Di kafe kecil yang tidak terlalu ramai, mereka duduk berhadapan. Meiza memutar-mutar sendok di cangkirnya.

"Jadi, ceritakan sedikit. Kenapa Anda bisa berakhir di pengadilan?" tanya Kamil, nada suaranya tenang, seperti seseorang yang sudah sering mendengar kisah serupa.

Meiza menghela napas. "Suami saya selingkuh. Saya bertahan selama satu tahun, berharap dia berubah. Nyatanya, semakin lama, saya semakin tersakiti."

Kamil mengangguk, seolah memahami perasaan itu. "Terkadang, bertahan bukan pilihan terbaik."

Meiza menatapnya. "Anda sendiri? Saya dengar Anda duda."

Kali ini, Kamil yang menghela napas. "Istri saya meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Kehidupan saya berubah sejak saat itu."

Meiza tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di mata Kamil yang membuatnya merasa ingin menggali lebih dalam.

Obrolan mereka berlanjut lebih lama dari yang mereka duga. Yang awalnya hanya percakapan formal, lama-lama berubah menjadi kehangatan.

Hari-hari berlalu. Meiza dan Kamil semakin sering bertemu. Awalnya hanya sebagai teman bicara, tetapi lama-kelamaan ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka.

Suatu hari, di sebuah taman kota, Kamil menatap Meiza dengan ragu.

"Saya tahu ini mungkin terlalu cepat, tapi... apakah Anda juga merasakan apa yang saya rasakan?" tanyanya.

Meiza menatapnya lama. "Kamil, saya baru saja melewati perpisahan yang menyakitkan. Saya takut untuk memulai lagi."

Kamil tersenyum, lalu menggenggam tangan Meiza dengan lembut. "Saya tidak meminta jawaban sekarang. Saya hanya ingin Anda tahu bahwa saya di sini. Dan saya tidak akan pergi."

Meiza mengerjap, merasakan kehangatan yang lama hilang dari hatinya. Mungkin, cinta memang tidak bisa direncanakan. Dan mungkin, bersama Kamil, ia bisa menemukan kebahagiaan yang baru.

~coretanandita~

Detak yang Tak Berubah

Alika melirik jam tangannya. Sudah pukul sepuluh pagi, waktunya pasien berikutnya masuk. Ia merapikan jas dokternya dan mengecek kembali berkas yang baru saja diterima dari perawat.


Nama pasien: Ny. Retno, 45 tahun.

Alika merasa nama itu tak asing. Begitu pintu diketuk dan terbuka, seorang wanita paruh baya masuk dengan langkah hati-hati, diikuti oleh seorang pria tinggi berjaket hitam.

Alika mendongak, dan detaknya seakan melambat sejenak.

"Shaka?"

Pria itu pun terkejut. Matanya melebar sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Alika?"

Mereka saling menatap beberapa detik, seolah waktu kembali ke masa SMA, ke tahun-tahun di mana mereka pernah saling diam-diam menaruh rasa.

"Kalian saling kenal?" tanya Ny. Retno, melihat ekspresi mereka.

Shaka tertawa kecil. "Iya, Bunda. Dulu kami satu SMA."

Alika segera menguasai dirinya, lalu tersenyum profesional. "Baik, Ibu Retno, mari kita mulai pemeriksaan."

Sepanjang pemeriksaan, Alika berusaha bersikap seformal mungkin. Namun, sesekali ia menangkap tatapan Shaka yang seolah ingin mengatakan sesuatu. Setelah selesai, ia menjelaskan kondisi Ny. Retno pada Shaka dan memberi saran tentang pola hidup sehat.

"Saya akan jadwalkan pemeriksaan berikutnya sebulan lagi," kata Alika, menyerahkan resep dan catatan medis.

Ny. Retno mengangguk dan tersenyum hangat. "Terima kasih, dokter."

Saat wanita itu keluar lebih dulu, Shaka masih berdiri di tempatnya.

"Jadi, kamu benar-benar jadi dokter jantung," katanya. Ada kekaguman di suaranya.

Alika tersenyum. "Dan kamu punya perusahaan konsultan pembangunan?"

Shaka mengangguk. "Mimpiku sejak SMA. Ternyata kita sama-sama mengejar cita-cita, ya?"

Ada jeda sejenak. Lalu, dengan nada lebih pelan, Shaka berkata, "Dulu aku sering ingin ngobrol sama kamu, tapi nggak pernah berani."

Alika terkekeh. "Padahal aku juga begitu."

Mereka saling bertukar senyum. Seolah ada benang merah yang dulu sempat terputus, kini perlahan tersambung kembali.

Shaka menatapnya lekat. "Boleh aku traktir kopi setelah ini? Anggap saja reuni kecil-kecilan."

Alika berpikir sejenak, lalu mengangguk dengan senyum yang lebih lebar. "Kenapa tidak?"

Mungkin, beberapa detak yang dulu tertinggal di masa lalu akhirnya menemukan jalannya kembali.

~coretanandita~

Selasa, 01 April 2025

Hidup Adalah?

Hidup adalah sebuah
titik
Yang dapat dihubungkan dengan
sebuah garis

Hidup adalah sebuah
roda
Yang harus selalu
berputar

Hidup adalah sebuah
teka-teki
Yang dapat membuatmu
menjadi pusing

Hidup adalah sebuah
sandiwara
Yang mengharuskan
setiap pemain untuk berakting

Hidup adalah sebuah
misteri
Yang dapat membuatmu
merasa ketakutan

Hidup adalah sebuah
arus
Yang dapat membuatmu
terseret ke tempat
asing

Hidup adalah sebuah
permainan
Yg dapat mempermainkan perasaanmu

Hidup adalah sebuah
pengorbanan 
Yang dapat mengorbankan
seluruh milikmu

~coretanandita~

Rinduku PadaMu

Ku merinduMu
Tlah lama ku tersesat tak tentu
Hanya bisa menunggu
Penuntun datang membawaku
Kembali ke jalanMu
 
Ku merinduMu
Maaf karna sesaat ku melupakanMu
Ku mohon padaMu
Memberi petunjuk padaku
Tuk selalu mendekatMu
 
Ku tahu ku tak sempurna
Hanya manusia tempatnya salah
Hamba ingin memohon ampunanMu
 
Ku sadar ku tak sempurna
Hanya manusia yang penuh dosa
Berharap Engkau memberi ampunan

~coretanandita~

Rindu itu?

Rindu itu lancang tiba-tiba hadir tak 
diundang
Rindu itu berisik namun makin lama makin asyik
Rindu itu nakal menyiksa batin hingga
melumpuhkan akal
Rindu itu jahat membuat jiwa tersesat
disiksa rindu yang dahsyat
Rindu itu kamu karna hanya kamu yang
mampu membuatku merindu
Dan rindu itu datang lagi membuat debar
jantungku makin tak menentu
 
Mengapa rindu selalu datang menyelinap dikala sepi menyapa malam
Membuat rindu ini tak berdaya hanya
mampu menatap langit dari halaman rumah
Mengapa rindu harus curang tak bernah
berkurang selalu datang dan trus datang
Membuat rindu tak bisa hilang hingga
menyiksa batin yang tenang
 
Tolong jaga rinduku
Bukan untuk dipermainkan
Palagi diombang-ambingkan
Karna rinduku selalu untukmu
Semoga do’a kan membawa rinduku
padamu

~coretanandita~

Antara Rindu, Jarak dan Waktu

Rindu hanyalah gabungan huruf-huruf tak bergeraktersimpan dalam
hati menuju memori tentangmu
 
Cinta itu rumit kalau kamu kacau hurufnya dan
tidak pernah merangkainya
dalam untaian kata cinta
 
Ketika rasa tersembunyi di dalam hati
Yang kau puja takkan pernah
mengetahui
 
Kita dipertemukan hanya untuk saling
sapabukan berbagi rasa
 
Apalah arti jarak jika dua hati sudah
tak berjarak
Apalah arti waktu jika dua hati telah
menyatu

Jangan pernah menyalahkan jarak
karena sejatinya rindu selalu
bersemayam dalam benak

Sekarang aku dan kamu adalah jarak yang
hanya bertemu di keheningan malam saat
kuterlelap
 
Apalah arti jarak jika sejatinya kau tidak
pernah beranjak dari hati dan benak
Apalah artinya rindu jika kenyataannya kau
memenuhi seluruh rongga kalbu
 
Sebagaimana kau tak mungkin menghalangi waktu,
maka kau pun tak akan mampu
menghalangi hati tuk merindu
 
Jarak hanya memisahkan raga, tapi bukan 
rindu antara dua jiwa
Waktu hanya menahan sejenakkarna rindu 
tak pernah berjarak

~coretanandita~
 

Kasih Telah Pergi

Di jalan yang kau tinggalkan 
ini aku berdiri sendiri
Wajah manismu kini tak bisa kunikmati lagi
Kau bagai mata air di padang pasir
Memberi asa untuk jiwa yang letih
 
Senyuman lembutmu mempesona
Suara lirihmu membuatku merona
Saat itu hanya kaulah yang ingin
kumiliki
Namun kau pergi tak pernah berpaling
lagi
 
Ku masih berdiri disini
Hanya lampu jalan yang menemani
Bahkan rembulan enggan menyinari
Seolah tahu isi hati ini
 
Pergilah kasih
Ku akan bertahan disini
Menunggu musim berganti
Bersama asa di hati

~coretanandita~

The Colour of Life

Kadang hidup menjadi ungu
saat kita bertengkar
Namun menjadi cerah saat berbaikan
Romantisnya pink
Rindunya biru
Hangatnya kuning
Berapi-apinya merah
Cerianya orange
Lembutnya hijau
Semuanya membuat hidup menjadi
lebih berwarna

~coretanandita~

Mawar Berduri

Cintaku seperti mawar merah
Nampak cantik
Namun duri tajamku bisa menusukmu
 
Cintaku seperti mawar merah
Harum mewangi
Namun makin kau dekat aku bisa
menyakitimu
 
Jangan memandangku dengan tatapan penuh
harap
Jangan ucapkan kata cinta dengan
mudahnya
Jika kau ingin hatiku kau juga harus
merenggut rasa sakitku
Karena kau akan tertusuk oleh diriku
suatu hari nanti
 
Jangan terlalu percaya dengan diriku
Karena kau belum begitu mengenalku
Jangan kau terlalu mencintaiku
Karena kau belum begitu tahu tentang diriku
 
Pergilah jika kau takut
Ku takkan menahanmu
Karena ku mawar berduri yang bisa
menyakitimu

~coretanandita~